Tuesday, February 10, 2015

Sambutan Gerimis di Paris-CERN Summer Programme Bagian 14

Pada kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman saya berpetualang di Kota Paris, salah satu kota yang terkenal di dunia karena keindahan Eiffel Tower-nya. Saya tak pernah menyangka bisa menginjakkan kaki saat masih menjadi pelajar dan itu semua tanpa biaya dari diri saya sendiri atau dengan kata lain gratis. Banyak orang yang berpergian keluar negeri dengan mengandalkan uangnya sendiri dari hasil usahanya bekerja selama berpuluh tahun, mereka melakukannya disaat tua. Itu juga sebuah prestasi, namun akan lebih menantang jika kita bisa berpergian ke luar negeri di saat muda, dimana rasa ingin tahu berkeliaran di pikiran kita. Namun ada juga anak muda yang keluar negeri dengan kekuatan uang dari orang tuanya, bagi saya itu manja. Ada juga anak muda yang tidak mempunyai uang banyak namun memiliki semangat dan impian, melihat peluang melalui statusnya sebagai mahasiswa dan dengan sedikit kombinasi dari ketekunan belajar, berusaha dan berimajinasi (imajinasi itu mencakup doa, harapan dan impian) bisa menginjakkan kaki di benua biru Eropa dan salah satunya kota Paris! Semua bisa dilakukan dengan memanfaatkan status sebagai mahasiswa dan mencoba peluang-peluang emas yang bisa membawa kita melihat dunia baru di luar sana. Usaha terbaik pasti harus diberikan namun dibalik semua itu, kekuatan impian dan imajinasi bagi saya adalah pendorong nomor satu.

Saturday, December 20, 2014

Arrival-YSEP Part 2

I and my friends from Indonesia who also enrolled for YSEP (Young Scientist Exchange Program at Tokyo Tech) arrived at Tokyo on 12 September 2014. I was not a tiring flight since before I have already experienced 15 Hours flight from Jakarta-Geneva and the way back :). It was a nice 9 o'clock morning (approximately), not too hot and not too cold. I felt a little bit difference when landed at Haneda airport. I was using Garuda Indonesia, National Airlines Company but I was not in Indonesia anymore. We walked to the waiting room, I and my tutor, his name is Takumu Honda agreed to meet at that place. He wanted to pick me up. All the letters written for information are Japanese character (Hiragana and Katakana) and Chinese Character (Kanji) eventhough they had translations for English in the airport area. Finally I met him and also my friends met their tutors.

Thursday, November 27, 2014

Sebuah Kota di Barat Laut Swiss-CERN Summer Programme Bagian 13

Sebelum saya bercerita bagaimana minggu ke-6 CERN Student Summer Programme 2014 yang saya alami, saya ingin bercerita tentang weekend minggu ke-6. Tak terasa saat itu sudah memasuki tanggal 2 dan 3 Agustus 2014. Tanggal itu sudah ada sebuah agenda yaitu Mbok Ayu(Mbok adalah Panggilan Kakak cewe yang jauh lebih tua untuk dalam Bahasa Bali), dia adalah anak dari Teman Bapak saya dan sebelum berangkat ke Geneva saya sempat bertemu mereka di Singaraja, Bali. Kebetulan saat itu Mbok Ayu sedang berada di Bali untuk menengok keluarganya dan mereka bermain ke rumah saya di Singaraja. Saat saya betolak ke Geneva, ternyata seminggu kemudian Mbok Ayu juga kembali ke Brisago, Swiss, tempat tinggalnya saat ini. Dia memiliki suami orang Swiss bernama Geo. Mbok Ayu mungkin merasa perlu bertemu saya karena sebuah kesempatan yang langka dimana kami saling mengenal dan berada di negara yang sama yaitu Swiss. Melalui percakapan yang panjang, akhirnya kami sepakat untuk bertemu pada tanggal 2 Agustus 2014. Kebetulan tanggal 1 Agustus adalah hari libur nasional di Swiss karena Swiss memperingati hari itu sebagai kelahiran Swiss. Mbok Ayu bersedia mengunjungi saya di Geneva. Dia dan Geo berangkat dari Brisago pada tanggal 1 Agustus dan menemui saya di Geneva tanggal 2 Agustus sekitar pukul 10.30 pagi. Mereka ingin mengajak saya bermain ke sebuah kota di sebelah barat laut Swiss. Sebuah kota di tepi Danau Lac Leman (mirip dengan Geneva), memiliki kombinasi moderen-klasik. Kota ini bernama Laussane (Baca : Lozan). 

Saturday, November 01, 2014

Flash Back : Coretan di Tembok Kamar, Menjemput Sebuah Impian-CERN Summer Programme Bagian (-1)

Halo teman-teman, kali ini saya akan membahas kisah dibalik layar tentang perjuangan mendaftar untuk CERN Summer Student Programme 2014. Kejadian ini bisa dibilang tepat setahun yang lalu. Saya mengetahui CERN sejak publikasi besar-besaran oleh media di seluruh dunia saat CERN mampu membuktikan keberadaan partikel Higgs-Boson, saat itu tahun 2012. Saya memang menggemari fisika sejak kecil, bermimpi ingin menjadi seorang penemu dan peneliti seperti Thomas Alva Edison, Isaac Newton dan Albert Einstein. Saya juga mengagumi pemikiran-pemikiran ilmuwan. Saya tertarik akan fenomena alam semesta dan ingin mengetahui alasan baik itu kualitatif maupun kuantitatif yang melatarbelakangai fenomena tersebut. Saya berpikir di tahun 2012 itu bahwa betapa hebatnya ilmuwan-ilmuwan di seluruh dunia melakukan kolaborasi dengan tujuan yang satu yaitu untuk membuktikan dan mengetahui bagaimana alam semesta bekerja dan sekaligus menurut padangan saya menambah bukti keagungan Tuhan. CERN, sebuah lembaga penelitian yang dibentuk oleh negara-negara Eropa untuk fisika partikel, dengan akselerator dan detektornya yang sangat megah dan raksasa, mereka didirikan untuk membantu melakukan konfirmasi terhadap teori fisika partikel serta mencari jawaban atas mekanisme dasar alam semesta. Saya hanya bisa menyaksikan dari TV saat itu bagaimana ilmuwan bekerja disana, mengolah data, menganalisis serta melakukan operasi terhadap mesin-mesin yang sangat kompleks. Tak pernah terpikirkan oleh saya untuk bisa mengunjungi CERN karena saya sadar perlu menjadi peneliti yang hebat untuk bisa bekerja disana. Rasa kagum akan CERN sejenak mendekam dulu dipikiran saya hingga pada tahun 2013 bulan Maret atau April saya mendengar Nathaniel Chandra Harjanto, kakak tingkat saya di Program Studi Teknik Fisika ITB diterima untuk melakukan internship yang bernama CERN Summer Student Programme 2013 (CSSP 2013). Dia memang mahasiswa berprestasi di Program Studi, memiliki hasil studi yang sangat memuaskan dan banyak mengikuti lomba-lomba. Saat itu saya langsung tersentak, kagum namun juga terpacu dan berkata dalam diri "Tahun depan saya harus bisa". Ini adalah kesempatan yang luar biasa, untuk mengunjungi CERN dan merasakan bekerja disana serta menambah wawasan untuk melihat Eropa.

Minggu Kelima Kontrak-CERN Summer Programme Bagian 12

Minggu kelima dimulai dari Senin, 21 Juli 2014 sampai Jumat 25 Juli 2014. Tidak terasa sudah memasuki minggu kelima dari total delapan minggu yang saya miliki disini. Kali ini saya tidak akan bercerita panjang karena memang minggu ini tidak begitu banyak visit dan sehari-hari saya seperti biasa mengikuti kuliah, ada sebuah visit serta tentu saja menganalisis data yang diberikan serta membaca paper untuk membantu pembahasan dari analisis data yang telah dilakukan. 

Saturday, October 04, 2014

Hujan Seharian di Zurich-CERN Summer Programme Bagian 11

Sebelum saya menceritakan weekdays minggu kelima dari CERN Summer Student Programme yang berlangsung dari tanggal 21-25 Juli 2014 yang penuh dengan kelas, project dan visit ke fasilitas CERN, saya ingin bercerita tentang weekend minggu kelima tanggal 26 dan 27 Juli 2014. Saya tidak ceritakan weekend minggu keempat, 19, 20 Juli 2014 karena saya hanya menggunakannya untuk beristirahat di kamar hostel dan membereskan beberapa analisis data serta hanya keluar ke Carrefour untuk berbelanja serta pergi ke CERN untuk berjalan-jalan ringan. Di awal weekdays saya dan Iliya, teman dari Bulgaria ingin sekali mengunjungi Kota Milan di Italia mengingat jaraknya yang cukup rasional dari Geneva yaitu 400-an kilometer. 

Monday, September 15, 2014

Minggu Keempat Kontrak-CERN Summer Programme Bagian 10

Halooo..aku akan melanjutkan berbagi kisah selama mengikuti CERN Summer Student Programme 2014 di Jenewa, Swiss. Setelah menggunakan weekend minggu ketiga dengan bertualang ke Lyon (baca : My First Hitchhiking and Lyon-CERN Summer Programme Bagian 9) akan dimulai minggu keempat kerja di CERN. Tidak terasa bahwa sudah menjelang pertengahan kontrak saya. Sejauh ini saya sangat menikmati suasana kehidupan di St. Genis dan juga Meyrin-Jenewa. Memang ada perasaan kangen keluarga di Bali dan juga Harumi, seseorang spesial di Yogya, saya tahu ini karena perbedaan waktu yang tanggung antara Jenewa dan juga WIB dan WITA yaitu 5 dan 6 jam. Disaat saya bangun pagi, mereka sudah beraktivitas di siang hari, di saat saya belajar dan bekerja di CERN mereka juga masih melanjutkan setengah hari mereka hingga sore dan saat mereka bersiap untuk tidur di malam hari, saya baru hendak pulang ke hostel. Sedikit kesempatan untuk berkabar melalui suara karena ketidak pas-an waktu ini sehingga aku dan keluarga serta aku dan  Harumi. Solusinya hanya leave message melalui LINE atau Whatsapp dan membalasnya saat pesan dibuka (biasanya paling cepet setengah jam setelah pesan sampai di HPku). 

Thursday, September 11, 2014

My First Hitchhiking and Lyon-CERN Summer Programme Bagian 9

"Budaya di Eropa sangat berbeda, ini pertama kalinya aku pergi ke suatu kota, yaitu Lyon dengan menumpang atau "Hitchhiking" , awalnya takut tapi ternyata orang orang Eropa sangat baik, mereka memberi tumpangan dengan gratis"

Aku di dalam mobil tumpangan
Suasana di dalam mobil tumpangan menuju Bellegarde bersama teman-teman